Ketika harus berpisah...
Labels: Experience, Feeling
--------------------oOo--------------------

Labels: Experience, Feeling
--------------------oOo--------------------
Ngerasakan enaknya dan segarnya badan setelah aerobik di Semarang, maka pas balik ke Norway udah bertekad bulet-bulet mau ikutan nge-gym di Trondheim. Baru juga ngeh karena Pappa yang ingetin: kan ada gym senter deket rumah tuuuh, sip pas banget. Beruntungnya juga si Pappa nge-dukung niat Mamma untuk cari keringat buat kegiatan sore :) Jadilah hari Sabtu minggu lalu, Mamma daftar jd member di gym senter deket rumah yang jaraknya cukup cekak dari rumah, cuman 7 menit doang jalannya.
Di gym senter ini, kebetulan pas Mamma daftar bebas biaya administrasi (woow lumayan) trus pas ada promosi free 1 bulan (asiiiik hihihi) dan juga dapat 2 jam gratis pendampingan dengan instruktur privat (ayayayayayyyy). Cuman memang kudu jadi member terikat 1 tahun, ntar bayarnya per bulan. Sip ga pa-pa kan kemaren ada rejeki nomplok dikembalikan uang kelebihan pembayaran pajak hehehe jadi bisa buat bayar 1 tahun membership-nya...puji Tuhan :)
Aniweiii, mulai senin 2 mei kemaren mulai nyobain grup sportnya. Setelah liat jamnya, ok-lah ambil yang aga malem j20.40 ambil Pilates. Hehehe belum pernah nyobain ini sih, asik juga model di ruangan gitu olah raganya, ada instruktur, pake musik kalem ala yoga, olahraga santai tapi fokus ke pengencangan perut, tapi biar santai lama-lama berat juga euy. Alhasil cucok sama grup ini.
Hari selasa kosong ga ikutan latian karena sore hari kami bertiga cari keperluan Johanne jadi udah aga malem pulangnya. Hari rabu, oiii ada grup Zumba niiih..jadi Mamma udah siap j17.30 kesono, woow ruameee bangeet yang ikutan (ada sekitar 35 orang deh)...model aerobik yang full semangat pake musik latin, timur tengah, energik, menyenangkan, si instruktur orangnya ceria bangeeet. Alhasil keringetan berat sesudah 1 jam ber-Zumba ria :)
Hari kamis pengennya ikutan grup Easy Step siih, cuman adoh rasanya badan udah terasa melayang, pusing karena idung bumpet, meler...karena cuaca masih dingin trus hari rabu pas pulang kantor ke'ujanan pulak...jadi kosong-lah tu kamis hehehehe.
Hari jumat j17.30 ketemuan sama privat instruktur. Nah ini menariiiik bangeeet karena sebelumnya si instruktur itu kan nelpon Mamma, eeeh dia ngomong pake bahasa Inggris awalnya dan bilang : is it possible to talk in English? Hehehe soalnya ini kan gym Norway yah jadi diluar duga'an Mamma kalo dapat instruktur ber-bahasa Inggris gituw. Aniweeei lagi, kita ketemuan di gym, wewww orangnya atletis buanget (klepek-klepek...hush..tapi masih ganteng'an si Pappa-nya Johanne kok!). Dia baruuu aja keterima jd instruktur di gym ini, dia barusan married sama orang Norway dan pindah ke Trondheim 4 bulan dari USA.
Sesi latian privat ini di-isi dengan 10 menit kenalan, ngobrol general ttg gym, motivasi, target kita, dll. Abis itu dia ngajarin basic stretching, warming up, ngenalin cara pake beberapa alat latian (barbel, bola, treadmill, sepeda, dll). Aiiih aiiih serasa asik sekali ber-olah raga sambil ada yang mengistruksi secara teliti dan mengarahkan cara serta posisi yg benar loh :) Jadi bagus juga yah cara penerimaan anggota baru di gym senter ini. Total sesi ya 1 jam bersama si instruktur privat ini. Minggu depan masih punya 1 jam lagi sama dia, baru setelah itu kita bisa nentukan apakah mau ambil les privat sama dia (kudu bayar tentunya di luar biaya bulanan wkwkwkw...) atau ya langsung do by yourself gitu.
Wah jadi intinya Mamma jadi semangat nge-gym nih buat kegiatan tambahan keringat di sore hari hehehehe, si Pappa mah ga masalah sama jadwal Mamma hehehe..makasiiiih Pappa :)
Happy sport, Mamma :)
Labels: Experience, Sharing
--------------------oOo--------------------
Labels: Experience, Sharing
--------------------oOo--------------------
Labels: Experience, Sharing, Sources
--------------------oOo--------------------
Well, semenjak Johanne lahir dan ketika berkumpul bersama dengan ibu-ibu lain yang punya baby sepantaran usia Johanne (di Norway kami punya grup baby) maka saya mulai belajar bagaimana para mama-mama ini yang namanya memuja-muji membanggakan anaknya mulai dari yang: pinter minum ASI, udah mulai pinter makan, udah bisa tepuk tangan padahal baru umur 4 bulan, udah mulai ngomong, udah mulai belajar berdiri padahal masih belum genap 7 bulan, ukuran badan yang besar-gendut-chubby, bla, bla, bla, bla.
Ini wajar sebagai orang tua apalagi rata-rata kami baru saja punya anak pertama, belum ada pengalaman punya baby dan perkembangan bayi bagus tentu patut dibanggakan. Ini ga masalah, justru bagus malah karena kita jadi bisa mendorong anak untuk bisa makin tumbuh kembang. Cumaaaaaan, yang jadi masalah buat saya (buat saya loh ya, mungkin ga masalah buat orang lain) adalah ketika seorang mama mulai MEMBANDINGKAN anaknya dengan anak orang lain sampai orang lain merasa kurang nyaman bahkan sampai ga enak hati. Dan itu yang terjadi sama saya.
Ini beberapa contoh perbandingan yang saya udah terima dan membuat saya kurang merasa nyaman:
*Johanne udah bisa tepuk tangan kaya baby X belum yah? Oooh belum bisa?? Loh padahal mereka seumuran yaa?
*Johanne ukuran bajunya berapa sih? Keliatannya kecil amat? Si baby X udah ukuran 86 loh kok Johanne masih 74 melulu??
*Dulu pas waktu Johanne umur 5 bulan kok kayanya badannya kecil yah? Padahal si baby X sekarang ini udah 5 bulan dia udah besar dan berat lagi.
*Johanne baru maem makanan padat umur 6 bulan?? Waah kalo baby X udah mulai bisa maem umur 4 bulan looh.
*Johanne udah bisa jalan kaya baby X belum? Loh belum bisa?? Loh padahal baby X ini kan lebih muda 1 bulan yaah??
*Gigi Johanne udah tumbuh berapa?? Ooh laah, masih tumbuh yang bawah doang? Kalo baby X udah tumbuh 4 di atas, udah 4 di bawah sekarang ini looh.
*Dsb
Komentar yang saya terima kebanyakan dari para mama bule, sebisa mungkin saya tangkas dengan jawaban yang sopan tanpa harus menyakiti mereka, tapi kalo tetep aja di-smash balik ya kadang saya aga keras juga komentarnya, wajar kan kalo kita juga perlu “membela” anak kita sendiri. Awalnya saya jelas sedih (ya adalah nangis bombay), saya curhat sama suami. Kami udah bahas masalah ini dan kami pun sudah tau solusinya menghadapi komentar seperti ini. Yang terpenting bagi kami adalah: Johanne perkembangannya baik, kurva perkembangan dia normal dan dia sehat, ceria dan lincah.
Tapiii yang barusan terjadi adalah, baru saja saya terima komentar perbandingan ini (membandingkan Johanne dengan anak teman saya sendiri) dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa saya sendiri, dari salah seorang teman yang saya kenal baik. Komentar dalam bahasa tentu rasanya lebih dalam, lebih mengena, lebih kerasa dibanding komentar dalam bahasa laen. Maka saya pun kecewa dan sesak. Saya tau, saya harusnya bisa lebih tegar lagi wong ya masalah ini sudah pernah saya lalui kok dan saya tau gimana fight back-nya. Cumaaan, seperti yang saya bilang, rasa kecewa ini terasa karena kami berteman baik, kenal baik.
Perlu waktu sedikit lama buat saya untuk menanggapi komentar yang diberikan, ada sedikit “perang batin” dalam diri saya apakah saya akan turuti emosi saya tapi efeknya komentar ini akan pedas dan mungkin malah bisa merusak pertemanan atau saya komentar sopan namun ada misi yang bisa ditangkap oleh teman saya itu bahwa ada nada protes di dalamnya? Akhirnya saya putuskan untuk memberikan komentar yang sopan dan mengena. Well, itu pun kalo dianya kerasa loh ya, tapi kalo engga kerasa ya paling tidak saya merasa nyaman karena saya tidak perlu memberikan komentar dengan emosi.
Disini saya belajar, bahwa pengalaman seperti ini adalah pembelajaran buat saya untuk makin lebih dewasa dan bijaksana dalam menyikapi komentar yang diberikan oleh orang lain terlebih atas anak kita. Tidaklah perlu membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain karena setiap anak adalah unik. Mereka pribadi yang berlainan, mereka punya kelebihan dan kekurangan mereka sendiri sama seperti kita orang dewasa...tidak ada yang sempurna.
Labels: Experience, Feeling
--------------------oOo--------------------
tapi di sini kami pulang ya rumah kosong. Kami awali hidup keluarga baru kami 
Perjuangan pertama adalah menyusui. Stok ASI saya cukup banyak, puji Tuhan bahkan berlimpah. Tapi seperti yang saya bilang di cerita sebelumnya, karena si Johanne terkena penyakit kuning dia bawaannya “malas” nyusu maunya bobo terus. Jadi kami cukup berjuang dengan “membangunkan” dia buat minum susu. Trus saya nyetok ASI dengan memeras, la soalnya kalo engga diperas ini stok susu membludak, merembes begitu
.
Dan, jadilah hari Senin suami kerja eeeh siangnya saya telpon karena saya tiba2 lemes dan sakiiiit peruuut kaya kontraksi gitu, jadi dia pulang dan antar saya ke dokter tentu Johanne dibawa juga
payah. Jadi hari itu suami ga kerja di kantor tapi dari rumah karena sayanya sakit.
Begitulah masa awal, penuh dengan tantangan karena ini pertama kali jadi orang tua baru, semuanya serba baru, dari mandiin dan ngebersihin, dari mainan, dari nggendong, dari nyusuin yang awalnya susyah cari posisi yang enak buat saya dan Johanne, semuanya deh. Kami belajar bersama bahkan sampai sekarang juga masih banyak belajar.
Oh ya beberapa hari setelah kami pulang dari rumah sakit, kami mendapat kunjungan dari suster perawat dari posyandu tempat si Johanne terdaftar. Sistem di Norway memang begitu, jadi kunjungan pertama si suster datang ke rumah para ortu yang baru melahirkan bayi. Kami membicarakan masalah2 umum bayi bulan pertama, beliau menjelaskan gimana nanti sistem kontrol, imunisasi, dll.
Bulan demi bulan berganti, semangat makin menjadi ketika memasuki bulan Juni karena bapak ibu rawuh ke Norway menjenguk kami. Sekalian bertepatan dengan rencana kami membaptis Johanne di gereja katolik St. Olav Trondheim. Waaaah sueneeng bangeeet
looh ada bapak dan ibu, wah wah wah terbantu sekali mengurus Johanne dari bulan Juni sd Juli itu. Apalagi pas bulan Juli, mas Didit, kakak saya kebetulan dikursuskan di Jerman. Jadi dia sempet mampir juga ke Norway buat nengok Johanne hehehe, jadi kumpul keluarga jadinya, puji Tuhan.
Labels: Experience, Family, Sharing
--------------------oOo--------------------
yang sudah kehilangan napasnya alias megap-megap ga diurus saya..hiks
Tapi kalo dipikir-pikir buanyaak cerita yang mau saya tulis tentunya ttg hal-hal yang sudah saya dan keluarga alami. Jadi ga pa-pa deh saya coba hidupkan lagi yaa blog ini.

. Saya kasih tau suami dan kami segera menuju ke rs. Dalam perjalanan, saya sms ortu di Semarang kasih kabar, rasanya saat itu pengeeen banget ada ortu yang juga ikutan nemenin secara fisik tapi ya gimana lagi wong jaoh jaraknya.
Saya males dong balik rumah lagi, jadi ketika bidan keluar untuk memeriksa bumil di kamar sebelah, saya dan suami berdoa supaya dilancarkan pembukaannya dan ga usah pulang. Selang 1 jam bidan kontrol saya lagi, eeeh udah bukaan 5 kalo ga salah jadi ya udah ga disuruh pulang yes. Habis itu ya sudah kami berdua di kamar diminta istirahat, saya praktekan Hypnobirthing untuk relax selama kontraksi datang, dan hasilnya ketika kontraksi hilang saya dan suami bobo. Beberapa kali bidan datang tanya apa saya perlu alat bantu persiapan kelahiran (akupuntur, epidural, gas penenang ) saya bilang engga perlu. Bidan bilang la trus perlunya apa? Saya bilang aku cuman pengen dipijat suamiku...hehehehe karena memang tiap kontraksi datang, paha kanan rasanya kuenceeeng bangeet tapi kalo kontraksi hilang ya ga kenceng. Kata bidang, saya termasuk bumil yang pendiam
karena kagak teriak-teriak kesakitan ketika kontraksi datang seperti tetangga sebelah yang aduhai segala macam perbendaharaan kata bisa terdengar sayup-sayup dari tempat saya.
. Suamilah yang memotong tali pusar antara saya dan bayi. Kemudian perawat mengurus si bayi ditemani suami, saya masih berjuang mengeluarkan ari-ari, push sekali lagi. Setelah bayi dibersihkan singkat dan diberi pakaian, putri kami diserahkan ke saya, tidur di dada saya untuk pertama kali, ooh luar biasa, skin to skin contact! Saya sama suami menangis terharu. Bidan dan perawat bilang silahkan nikmati saat-saat kalian bersama sebagai keluarga baru...terserah mau berapa lama, kalo udah nanti panggil kami yah gitu. Senangnyaaa luar biasa. Kami ciumi putri kami, dan saya biarkan dia mencari susu ASI yang pertama kali, sungguh otomatis dia bisa mencari sumber ASI dan menikmatinya untuk pertama kali. Terima kasih Tuhan.
Setelah itu, barulah suami telpon ortunya, saudara, saya sms bapak ibu, rekan kerja dekat, teman deket pokoknya kabar-kabari.
Lucunya nih, pada saat hari kelahiran saya dan suami cuman masih punya nama Johanne Kiplesund tapi belum memutuskan nama tengahnya karena ada 2 pilihan nama.
Setelah selesai urusan di rumah sakit, pukul 13 siang, kami bertiga dipindahkan ke hotel rumah sakit tempat untuk tinggal selama 3 hari sebelum pulang ke rumah. Disana fasilitas gratis pun masih diberikan secara komplet.
sepanjang jalan. Bayangkan, suami yang tidak di tempat, orang tua jauh, mertua juga baru aja pulang, sendirian sama bayi kami ditemani perawat yang terus menyemangati saya dalam bahasa norsk bahwa penyakit kuning sudah biasa apalagi untuk bayi dengan ortu campur seperti kami. Sebenarnya batas penyakit kuning si Johanne cukup rendah, tapi mereka tidak mau ambil resiko.
, saya pikir putri kami tidak bisa tidur satu ruangan dengan kami (saya ingat seperti itu keponakan saya di Jakarta yang lahir kena kuning juga). Tapi puji Tuhan, cepatnya Tuhan hapus kekawatiran saya, ternyata di Norway alatnya dibawa masuk ke ruangan, jadi kami tinggal 1 ruangan, saya, bayi dan suami yang menunggu. Ketika suami datang dan ketika putri kecil kami mulai disinar dengan hanya memakai popok, trus kacamata untuk melindungi matanya...tangis saya tumpah tak tertahankan. Setiap kali saya melihat putri kami disinar, saya rasanya pengeeen memeluk dia tapi kan ga bisa. Jadi cuman liat dari luar. Efek penyakit kuning jadinya si bayi ini aga malas menyusui, padahal kalo bayi ga nyusu produksi ASI mana berjalan. Jadi cukup berat juga saat itu kami melewati hari-hari dimana putri kami disinar. Labels: Experience, Family, Sharing
--------------------oOo--------------------
.
.
saat itu…halah! Akhirnya setuju kasih lebih, prosesnya jelas melalui tawar-menawar dengan kompensasi yg mengenakkan buat kami berdua hehehe…teteuuup! Sehingga suami saya akan mendapatkan “tambahan” 5 minggu, jadi kuota dia dari 10 minggu menjadi 15 minggu. Wewww, dia seneng sekali rupanya..saya pun senang kok. Ga pa-pa kasih lebih ke dia, toh positip aja hasilnya.Labels: Experience, Sharing
--------------------oOo--------------------
Pemerintah Norway melalui NAV, memberikan fasilitas tunjangan kepada bumil (dan juga suami) dalam rangka kehamilan ataupun adopsi anak. Beberapa fasilitasnya adalah:
Tunjangan buat bumil selama masa kehamilan = Uang kehamilan (Svangerskapspenger)
Tunjangan per bulan buat orang tua si bayi dlm rangka kelahiran (Foreldrepenger ved fødsel)
Tunjangan per bulan buat pasangan yang mengadopsi anak (Foreldrepenger ved adopsjon)
Tunjangan kelahiran atau adopsi yang diberikan langsung sekaligus (Engangsstønad ved fødsel og adopsjon)
Di bagian 1 ini saya akan ceritakan tentang tunjangan nomor 1 dulu deh hehehe, takut kepanjangan posting ntar bosen. Monggo silahkan dibaca:
Svangerskapspenger
Pada intinya, tunjangan ini diberikan kepada bumil yang sehat yang tidak dapat melanjutkan pekerjaan selama kehamilan karena dikawatirkan dapat menimbulkan masalah kesehatan baik bagi bumil atau bagi si janin/baby. Misalnya nih, si bumil kerjanya menyangkut urusan bahan2 kimia, bumil kelelahan dlm bekerja (jam kerja terlalu lama, beban kerja berat), atau kondisi psikologis bumil. Untuk bisa mendapatkan tunjangan ini, bumil musti sudah bekerja min. 1 bulan di tempat pekerjaannya.
Bidan atau dokter yang menangani si bumil adalah pihak yang berperan penting untuk menentukan keputusan apakah si bumil ini bisa mendapatkan tunjangan ini berdasarkan pemeriksaan mereka. Jadi formulir untuk tunjangan ini musti diisi+ditandatangani sama bidan atau dokter kemudian jg kudu ditandatangani sama pihak kantor bumil (manager atau bos) baru diserahkan ke bagian personalia kantor untuk dikirimkan ke kantor NAV.
Akhir Februari kemaren, saya mengajukan tunjangan kategori ini ke NAV. Jadi, pemeriksaan pas bulan Februari kemaren sama bu bidan, saya mengeluh kalo saya sekarang susah tidur (insomnia). Badan sih cape tp ga bisa bobo, trus juga idung bumpet melulu, panggul sakit, plus juga sedikit kondisi psikologis saya yg kurang tenang..aiih bahasanya!
Habisnyaa, suami saya kebetulan dapat tugas ke luar Norway melulu mulai akhir Januari sampe bulan ini (Malaysia, Irlandia, dan Filipina). Saya merasakan cukup berat lah ditinggal sama suami tugas sana sini, bukan karena saya manja tapi kondisi psikologis memang jujur saja cukup mempengaruhi saya di kehamilan semester akhir ini. Tadinya sudah coba mencari pengganti teman kantor yg bisa handle kerjaan dia, cuman masalahnya si klient dari Irlandia ini cucok sama suami, jadi ya wes suami saya musti yg berangkat. Sekilas memang dilema juga, disatu pihak saya bangga & mendukung karir suami, tapi di lain pihak, kalo nuruti ego ga pengen rasanya dia pergi2 jauh, jadi saya dan baby musti sabar dan tegar selama dia tugas. Loh, malah curhat
.
Aniwei, back to topic ini. So, formulir yg ditandatangani sama ibu bidan, menjelaskan bahwa saya kudu mendapatkan pengurangan jam kerja sebesar 25% (tadinya ditawari lebih sih..ah cuman saya ga kemaruk ah, saya bilang: coba dulu dengan 25% ini kalo kurang ntar saya minta lagi gitu). Jadi, jam kerja saya yang sehari awalnya/normal 8 jam sekarang jadi 6 jam. Nah, konsekuensinya adalah, pihak kantor akan memberikan gaji ke saya sebesar 75% dari gaji normal saya sedang yg 25% dibayari oleh pihak NAV ini. Policy di kantor saya untuk urusan ini sih, kantor tetep bayar 100% gaji ke saya, cuman dalam pembukuan mereka, mereka keluarkan 75% dr kas & menerima 25% dari NAV. Asik juga biar ga usah ribet di bumil.
Jadi begitulah, saya notabene mulai berkurang jam kerja-nya, minggu pertama Maret kemaren mulus deh, pulang cepet...eeeh minggu ini yang baru saja lewat, malah kerja'an musti cepet2 dibereskan...waks...beberapa hari saya lembur jadinya parah...deh. Ok, kurang 2 minggu lagi saya cuti panjang...mencoba akan relax.
Sip, postingan berikutnya mengenai Tunjangan nomor 2...ditunggu.
Labels: Experience, Sharing, Sources
--------------------oOo--------------------
Jadi musti cari alternatif laen. Setelah diskusi, akhirnya kita putuskan untuk makan di salah satu resto Vietnam tempat favorit kita di Trondheim sini. Beberapa kali kita makan di resto tersebut dan selalu puas, selain makanannya enak, harganya pun ga mahal, si pemilik resto orangya ramah, dan letaknya deket sama tempat parkir pula jd praktis.
.
Saya kan jadi bingung Memang sih antara saya & suami saya kenal sama si ibu & pemilik resto itu, karena ya itu tadi beberapa kali makan disana. Cuman moso tiba2 saya nginjek kaki bapak pemilik resto itu siih tiba2 pula? Trus saya bilang, memangnya kenapa kok saya suruh nginjek kaki suaminya? Si ibu bilang, iya soalnya suaminya lagi sakit pinggang. Dia pake bilang, please yah tolong.
Hehehe jadi saya, si ibu pemilik resto dan suaminya ketawa bareng. La wes, ketauan misi saya membantu si ibu itu. Trus ibu pemilik resto bilang, wah harusnya tadi ga usah pake bilang minta maap segala, harusnya injek aja dan udah ga usah bilang apa2 gituw. Yeee, mana saya tau, lagian permintaan ibu itu ga jelas sih, bisik2
dan ga jelaskan panjang lebar trus suaminya langsung muncul dr dapur plus lirikan si ibu yang memelas supaya saya melakukan misi.
. Labels: Experience
--------------------oOo--------------------
Kali ini, saya akan bercerita tentang cerita pas saya sakit di masa kehamilan, periksa di bidan, dan tes USG. Semoga ga kepanjangan yah. Monggo dibaca:
Kondisi sakit pada waktu hamil
Di akhir bulan Oktober 2009, saya sakit flu, batuk, radang tenggorokan, serta panas sampai akhirnya suara ilang
. Gara2nya sih simple, waktu itu memang peralihan masa dari musim gugur ke mulai musim dingin…jadi udara memang ga karu2an. Ditambah perkerjaan yang lumayan padat dibarengi kegiatan sosial masyarakat Trondheim sini dalam rangka penggalangan dana buat korban gempa di Padang. Jadi intinya, si bumil rada2 kecapean plus saya inget suatu hari saya lupa pake syal. Dan alhasil tenggorokan langsung kena. Kondisi saya saat itu sedang tidak mengkonsumsi any kinds of vitamins soalnya pe-de asupan cukup dari makanan sehari-hari. Hari pertama sakit, saya cuti. Mencoba tangguh melawan si flu ini. Tapi hari ke-2 saya tepar ga kuat, selain saya rada stress takut kenapa2 dg janin terus terang pengen dikasih obat yg bener o/ dokter biar cepet sembuh. Maka hari itu saya dan suami ke dokter. Lagi-lagi ”expectation” yang besar dari si bumil ini ngarep dikasih obat, tapi ternyata no no nothing
. Sama dokter diperiksa tenggorokan doang, saya trus dibuatkan surat ijin sakit (dikasih 1 minggu), disuruh istirahat, minum yg banyak, dan minum repsil yg warna kuning rasa madu+lemon (kalo di Indonesia: strepsil, cuman di Norway kl mau beli strepsil kudu pake resep dokter karena ada kandungan tertentu, lupa apa jenisnya. Jadi yg dijual tanpa resep ya repsil itu). Dah itu doang. Saya tadinya kekeuh pengen minta obat, tapi dokter bilang…obat yg mujarab adalah istirahat+minum air yg banyak. Saya jan dongkol-sedongkol2nya
…cuman sabar aja wong bumil katanya kudu belajar sabar. Akhirnya dengan segala macam perjuangan, batuk2, teler, tisue ber-rol2, suara serak sampai hilang, ga bisa tidur, hidung bumpet, kepala pusing, dll.
Dan setelah tanya sana-sini sama temen2 Indonesia yg di Trd, salah seorang teman menyarankan saya untuk mengkonsumsi salah satu vitamin untuk bumil soalnya dia cocok pake itu dan kondisi-nya fit. Salah satu alasan temen saya yg saya ingat bener adalah, kita kadang kurang pintar mencukupi asupan vitamin penting dalam porsi menu makanan kita selama hamil jd perlu dibantu dg vitamin. Nah, saya langsung tersadar…astaga, saya ga konsumsi vitamin apa2 setelah boks asam folat saya habis sebelum saya jatuh sakit dan saya merasa perlu memang menerima bantuan dari vitamin ekstra ini. Ok, akhirnya saya minta suami beli vitamin itu dan mulai mengkonsumsi vitamin selama saya sakit sampai sekarang sih. Puji Tuhan, kondisi saya mulai membaik dan kembali ber-aktivitas seperti semula. Dari pengalaman sakit itu pula, ada satu hal aneh yg saya alami…yaitu, saya mulai demen minum susu
. Wah, suami saya sampe bengong..wong biasanya saya ini antipati/ogah/males/tiada hasrat minum susu apalagi susu putih. Kalopun minum, musti pake bubuk coklat biar manis. Tapi pas saya sakit, saya coba minum sedikiiiit susu putih, eeeh kok jadi ketagihan…sampe saat ini saya sukaaaa dan bisa habis bergelas-gelas susu putih dingin…entah bawa’an hamil atau gimana, coba nanti kita lihat apakah saya masih doyan minum susu setelah melahirkan
.
Periksa di bidan
Seperti yg sudah saya tulis di postingan sebelumnya, bahwa di Norway bumil boleh periksakan kehamilan baik di dokter maupun di bidan. Nah, setelah saya cari info baik dari forum bumil di Norway maupun pengalaman temen2 Indonesia, maka kesimpulannya kebanyakan pada puas periksa di bidan. Alasannya, memang karena bidan lebih spesifik pengetahuannya untuk bumil dan baby (soalnya dokter yg kita kunjungi kan dokter umum bukan dokter spesialis kandungan lo ya), dan biasanya bidan lebih banyak waktu untuk kasih konseling pada saat kita kontrol (dari pengalaman saya selama ini, biasanya kl saya kontrol ke dokter berkisar 15-20menit, tapi kalo ke bidan bisa sampe 1 jam). Maka segera saya mendaftarkan ke salah satu klinik bidan yg dimiliki oleh kota Trondheim ini. Sebagai informasi, di Trondheim ini ”cuman” punya 4 klinik khusus bumil dengan total bidan 13 cuman 1 orang bidan sedang cuti mulai Desember 2009 kemaren. So, kita musti lama daftarnya biar dapat bidan yang masih ”sela” jatahnya. Puji Tuhan, ga sampai 1 minggu, saya dapat jatah di salah satu klinik yg deket banget sama kantor. Pada saat itu, kami masih bertempat tinggal di apartemen lama, trus kok ya puji Tuhan akhirnya kami dapat rumah yang letaknya tidak jauh dari kantor dan artinya ga jauh juga dari klinikk tsb. Pas
.
Kontrol pertama ke bidan, ditemani suami di bulan November 2009. Si ibu bidan masih muda, orangnya ramah, cantik, dan sabar. Wah cocok-cocok
. Dari kesan pertama kontrol ini, saya langsung sreg banget sama bu bidan Monica ini. Ternyata benar, selain memeriksa hal standar yg jg diperiksa sama dokter, si ibu bidan memberi banyak saran (walopun kita ga tanya nih) ttg kehamilan. Kontrol pertama kali ke bidan ini juga, puji Tuhan kami boleh mendengar detak jantung bayi kami. Rasanya, seperti magic
…luar biasa, ada detak jantung lain di dalam saya selain detak jantung saya sendiri. Saya dan suami sampai berkaca-kaca.
Pemeriksaan USG di St. Olav Hospital
Nah, ini yang bikin deg-deg’an campur aduk suasananya. Oh ya sebelumnya perlu saya ceritakan, pada kontrol resmi pertama kali (minggu ke 12) maka dokter/bidan akan segera mengirimkan pesan ke rumah sakit dimana bumil terdaftar untuk bisa memberikan jadwal pemeriksaan USG. Nah, setelah kita mendapat surat panggilan untuk USG dari rumah sakit, maka di hari yg telah ditentukan kami berdua kesana. Pemeriksaan USG (di rumah sakit Norway masih pake 2D) dilakukan oleh seorang bidan di rumah sakit. Jadi kami berdua masuk ke ruangan USG, setelah bincang2 dikit dengan bu bidan ini
, maka saya disuruh berbaring dan mulailah pemeriksaan berlangsung. Bidan mulai menjalankan alat USGnya menghadapi layar di depan beliau, sedang saya dan suami melihat layar yg digantung di atas kami. Oh, pas kami bayi kami di layar, mulai saya nangis doong ga sampai tersengguk-sengguk tapi cukup lumayan air mata ini keluarnya, tak henti-hentinya mengucap syukur kami boleh melihat bayi kami. Suami saya speechless cuman saya merasa dia menggengam tangan kiri saya makin erat
. Momentnya luar biasa, pertama kalinya melihat ada bayi di dalam kandungan…tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Selanjutnya bu bidan mulai menerangkan ini dan itu, mengambil beberapa foto untuk dicetak, eh si bayi posisi kakinya nekuk ke atas perutnya, saking lenturnya to hehehe. Nah, saat bu bidan mengarahkan pemeriksaan ke jantung bayi, si baby gerak-gerak melulu jd bidan ga bisa menerangkan dengan jelas deh. Weee, saya udah mulai panik, memberondong bidan tanya ini itu…hehehe hormon bumil. Mungkin saking saya tanya ini dan itu kalii yaa, maka wah wah wah tak dinyana-nyana si bidan bilang…ya deh, demi melihat kondisi spesifik jantung, saya kasih waktu 2 minggu lagi buat USG, mau tidak? Yeee bu bidan, tawaran gratis masa kami tidak mau seeeh…lagian ini jarang-jarang euy! Biasanya emang cuman 1 kali aja USG gratis di program kontrol selama kehamilan. Ini dikasih ekstra 1 kali lagi USG, ooh dengan senang hati
. Setelah mencetak beberapa foto USG (kalo ini mah bayar, lupa berapa tapi ga mahal kok wong dapat 5 lembar foto USG), maka kami segera balik ke kantor lagi dan hehehe temen2 pada tanya: mana, mana fotonya huehehe jadi malah heboh.
2 minggu sesudah pemeriksaan USG yg pertama, maka saya dan suami datang lagi ke rumah sakit ke bagian USG. Kali ini ternyata bidannya lain, dan ruangannya pun lain. Alat USGnya pun juga laen walo masih 2D tp alat kali ini punya fungsi untuk memeriksa jantung bayi lebih detail. Bidan yang ini orangnya sabar dan panjang lebar menjelaskan kami, pake ngelihatin warna aliran darah masuk dan aliran darah keluar. Puji Tuhan, kondisi jantungnya sehat & normal
. Berhubung bumil ini suka tanya, maka saya bilang boleh ga dicetak foto USG…dan ternyata boleh. Sama satu lagi, boleh ga saya rekam suara detak jantung bayi dari alat USG…dan asiik boleh, jadi saya rekam saja pake hp saya. Suami saya sampe geleng-geleng, kok ya dapet idenya ini looh si bumil. La tapi ga ada salahnya to? lagian boleh kok.
Wah mungkin kali ini aga panjang ceritanya yah, tapi tenang saja akan ada cerita lain lagi siih yang akan saya ceritakan…ditunggu yaa.
Labels: Experience, Family, Feeling
--------------------oOo--------------------
Setelah konsultasi pertama dengan dokter yang “rada mengecewakan”
dengan standard ke-Indonesia’an saya karena pengaruh cerita2 dari internet oleh bumil di Indonesia hehehehe, maka saya mencoba mencari tahu gimana sih system Norway ini tentang pemeriksaan ibu hamil. Dan ini lah hasil penemuannya:
Pemeriksaan kehamilan yang disebut svangerskapskontroll di Norway diberikan secara gratis kepada bumil pada minggu kehamilan 12, 24, 28, 32, 36, 38, dan 40.
Ibu hamil dapat memeriksakan kandungannya baik kepada dokter (fastlege) dimana bumil terdaftar sebagai pasient atau bisa memeriksakan kandungan ke bidan (jordmor) atau bisa mengkombinasikan antara fastlege dan jordmor, jadi pemeriksaan sekarang ke fastlege dan pemeriksaan berikut ke jordmor. Monggo.
Pada minggu 18 dalam masa kehamilan, maka rumah sakit setempat akan menawarkan pemeriksaan USG gratis kepada bumil. Catat: menawarkan niih, jadiii kalo bumil ga mau ya sudah ga pa-pa.
Informasi mengenai kehamilan, kelahiran, menyusui dan masa sesudah melahirkan baik berupa buku, majalah, brosur disediakan secara gratis baik didapatkan dari fastlege, jordmor, atau pesen dari dep. Kesehatan Norway. Informasinya tersedia dalam beberapa bahasa misal: norsk (jelas lah yaa), english, bahasa somali, bahasa urdu, dll. Cuman bahasa Indonesia belum ada.
Pada saat pemeriksaan resmi pertama pada minggu ke 12, maka bumil akan mendapatkan kartu kesehatan untuk ibu hamil (helsekort for gravide). Kartu ini wajib dibawa setiap pemeriksaan kehamilan. Data-data general di kartu tsb: nama pasangan, alamat, nationality, pekerjaan, education, marriage status, catatan alergi bumil, medical conditions bumil dan suami, catatan apakah bumil itu perokok/peminum alkohol. Nantinya di setiap pemeriksaan kehamilan, fastlege atau jordmor akan menulis pemeriksaan badan bumil misal: tensi darah, tes urin, berat badan, detak jantung baby pake alat detak jantung, ukuran perut bumil (diukur pake meteran biasa), pemeriksaan posisi baby secara manual pake tangan si dokter atau bidan, dll.
Jadi begitu gambarannya, pemeriksaan kehamilan bagi bumil di Norway. Mau tidak mau, ya saya musti menyesuaikan diri dengan sistem disini.
Sekarang cerita dikit mengenai pengalaman pemeriksaan kehamilan saya yah. Pas udah minggu ke 12, udah seneeng banget mau periksa ke dokter, selain saatnya bisa kasih tau ke temen2 segambreng yang udah kemaren2 tanya...gimana? udah isi belum?
Wah itu dia, sebisa mungkin saya kasih jawaban yang sopan hehehe....anyway bagian itu ga usah dibahas dulu huehehe...
Jadi pemeriksaan resmi yg pertama kalinya awal Oktober 2009, saya dan suami datang ke dokter saya. Standard pemeriksaan pada intinya: tes darah, tes urine, tensi darah, sama dikasih tau kira2 tanggal terminnya, udah gitu doang. Selebihnya ya “cuman” bincang2 saja, tentang kondisi saya, muntah atau pusing atau gimana ? ada keluhan tidak?
La sampai hari itu sih lancar2 saja kondisi saya, jadi ya baik2 ceritanya. Belum pernah muntah baik morning sickness atau mual yang parah, cuman saya jadi ga mau makan yang namanya sosis dan bola daging ala Norway namanya kjøttboller. Entah kenapa saya terkena mual di perut kalo liat sosis sama si kjøttboller itu biarpun itu cuman di toko hehehe. Gara2nya suami saya goreng sosis buat makan malam, wuiiih saya langsung mual semual-mualnya jadi malam itu saya makan menu laen sedang suami makan sosis.
Trus saya tanya, apa perlu melanjutkan vitamin asam folat atau any kind of vitamins, eh si dokter bilangnya gini…kalo masih ada sisa vitamin dari yang beli kemaren2 ya silahkan dilanjutkan…kalo udah habis ya ga minum vitamin ga pa-pa asal bisa mengatur asupan gizi makanan setiap hari. Wes, sante to…entah sante atau entah tidak "memaksa"…cuman ya kadang rada gemesss…gemeess
Sehubungan vitamin saya masih ada, jadilah ya wes saya niat teruskan dulu sisa vitamin yang ada…mosok dibuang ?
Sepulang dari periksa, eiing inggg eeeng….udah dapat lampu ijo dari suami untuk kasih kabar sana sini…jippi. Tentu saja, kami berdua ngabarin si bos dong. Secara dia juga yang mak comblang kami jaman dulu hehehehe…wah puji Tuhan, tanggapan dia sangat positif, kasih ucapan selamat, wes pokoknya bagus gitu. Selebihnya ya saya kasih tau temen2 saya dong baik yang di Norway sini atau yg di Indonesia.
Cerita lainnya saya masukkan di bagian selanjutnya yaaaa….(bersambung)
Labels: Experience, Family, Feeling
--------------------oOo--------------------